Bagi yang Bernyali, Rasakan Sensasi Naik Kereta dengan Kemiringan 52 Derajat


Melancongyuk - Pernah kah Anda merasakan sensasi naik kereta api berpenumpang dan turun dari ketinggian hingga 52 derajat? Jika belum, maka patut mencoba wahana yang ada di Scenic World Blue Mountain, Katoomba, Australia.

Nama wahananya ialah Scenic Railway, yakni sebuah kereta berpenumpang dengan atap dan sisi kanan serta kiri dilapisi kaca. Kereta yang terdiri lebih dari delapan gerbong ini akan membawa Anda meluncur dari ketinggian sudut kemiringan hingga 52 derajat.

Selama meluncur, Anda akan diajak melihat keindahan hutan hujan tropis di Blue Mountain, lalu menyusuri semak-semak belukar dan masuk ke dalam sebuah goa tua bekas galian tambang. Hmmm… Seru bukan? Mau tau cerita lengkapnya?

Scenic Railway merupakan salah satu wahana yang tidak pernah sepi jika berkunjung ke Scenic World, Blue Mountain, Katoomba, Australia. Setelah membayar tiket masuk, Anda harus rela antri beberapa menit sebelum memulai petualangan di Scenic Railway.

Begitu saatnya tiba, petugas akan mempersilahkan Anda masuk ke dalam kereta dan duduk di kursi yang masih terbuat dari kayu, satu baris kursi bisa diisi dua hingga tiga penumpang. Setelah semua kursi terisi maka pintu kaca bakal tertutup, Anda pun akan diminta untuk menggunakan sabuk pengaman.

Tidak berselang lama, kereta bakal meluncur. Tapi, jangan berpikir bahwa kereta akan meluncur secepat jet coaster. Kereta berjalan tidak terlalu cepat, tujuannya agar Anda merasakan betul kemiringan di dalam kereta sembari melihat keindahan hutan hujan tropis di Blue Mountain.

Setelah meluncur, Anda juga bakal melewati semak belukar lalu masuk ke dalam sebuah goa tua bekas galian tambang. Menikmati wahana ini terdapat dua bagian, Anda bisa menikmati meluncur dari atas ke bawah atau naik dari bawah ke atas. Keduanya sama-sama bikin uji nyali.

Salah seorang petugas bercerita bahwa dulunya kereta itu digunakan secara manual dengan bantuan manusia, hanya berbekal tuas pengereman seadanya untuk menuruni bukit. Kereta itu dulunya digunakan untuk membawa hasil tambang dari atas ke bawah atau sebaliknya. Namun, karena area pertambangan itu sudah tidak aktif lagi, kini digunakan sebagai destinasi wisata.

Tapi, saat ini tidak perlu lagi khawatir, karena kereta yang digunakan saat ini tergolong aman. Pengaturan kecepatan dan pengeremannya pun sudah modern.

Usai menikmati Scenic Railway, Anda juga bisa berkeliling di area bekas pertambangan. Lalu, menikmati keindahan Blue Mountain dengan Skyway atau Cableway.

Sensasi Selfie di Wana Wisata Kampung Indian Jember


Melancongyuk - Mengabadikan momentum saat berjalan-jalan di objek wisata dengan swafoto di spot yang menarik sudah menjadi tren bagi semua kalangan, tidak hanya anak muda, namun orang tua pun tidak mau ketinggalan.

Menikmati udara segar di hutan tengah kota sambil berjalan-jalan bersama keluarga saat akhir pekan menjadi salah satu pilihan untuk melepas penat, setelah bekerja selama sepekan dan tentu tidak harus pergi ke luar kota yang menghabiskan banyak biaya.

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terdapat wana wisata yang dikembangkan oleh Perum Perhutani Jember yang berada di kawasan hutan perkotaan dengan nuansa ala Suku Indian yang merupakan pemukim pertama di Amerika.

Kampung Suku Indian atau yang dikenal dengan "Indian Camp" berada di Desa Kotok, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, atau sekira 25 kilometer dari kota Jember. Objek wisata itu menjadi salah satu tujuan wisata baru yang menyuguhkan suasana hutan kota yang asri dengan nuansa permukiman Suku Indian yang dikemas apik nan menarik untuk memikat wisatawan.

Lokasi hutan kota yang dikelola oleh Perum Perhutani Jember itu memiliki luas sekira 7 hektare yang masih terjaga kondisinya dengan baik dan di dalamnya terdapat kampung Indian yang didesain menyerupai permukiman suku Indian lengkap dengan berbagai spot eksotis untuk swafoto.

Kawasan di sekitar kampung Indian itu sangat asri berupa hutan yang ditata rapi dengan pepohonan pinus yang meghampar hijau dan di sela-selanya terdapat dekorasi Suku Indian yang ada di hutan itu menjadi daya tarik utama, dan tentunya sejumlah spot unik nan menarik menjadi bidikan wisatawan untuk swafoto.

Pengelola wisata Kampung Indian Tria Angantaka Putra mengatakan lokasi tersebut menjadi salah satu objek wisata hutan kota dengan menyediakan sejumlah spot untuk berswafoto ala Suku Indian dengan suasana yang sejuk nan asri.

Konsep Suku Indian dipilih oleh pengelola wisata untuk memadukan keasrian hutan belantara yang masih asli dan berbagai ornamen Suku Indian semakin melengkapi wana wisata yang sejuk nan rindang tersebut, sehingga wisatawan seakan diajak untuk menjadi Suku Indian di kawasan tersebut.

Pengunjung juga bisa menyewa kostum ala Suku Indian dengan sejumlah ornamen dan perlengkapan, seperti busur, panah, kapak, bulu-bulu untuk penutup kepala yang disediakan oleh pengelola, sehingga mereka bisa berkeliling hutan dengan mengenakan kostum tersebut seakan menjadi Suku Indian.

Tidak hanya sejumlah spot swafoto ala Suku Indian yang bisa dinikmati di sana, arena bermain untuk anak-anak juga disediakan di kawasan wana wisata tersebut, sehingga liburan semakin seru bersama keluarga di Kampung Indian yang berada di Desa Kotok, Kecamatan Arjasa tersebut.

Selain berfoto-foto, wisatawan juga bisa berjalan berkeliling areal hutan pinus yang sejuk dan masih asri. Oh ya, jangan lupa menyempatkan pula mencoba sensasi meniti jembatan kayu bernama "Jembatan Cinta" di tengah hutan belantara dengan bergaya ala Suku Indian.

Untuk masuk wisata ke Kampung Indian tersebut, pengunjung hanya dikenai biaya Rp3.000 per orang dan sejumlah aksesoris ala Suku Indian juga disewakan kepada pengunjung yang ingin berswafoto ala Suku Indian.

"Tidak salah kami memilih objek Kampung Indian untuk liburan akhir pekan karena cuacanya cukup sejuk dan asri, serta bisa mengenalkan kepada anak-anak tentang suku Indian yang sering mereka tonton di televisi," kata salah seorang pengunjung, Nurlela Zubaidah.

Menurutnya liburan tidak harus pergi ke luar kota dengan menguras kantong yang cukup banyak karena sejumlah destinasi wisata yang murah meriah banyak ditawarkan di sejumlah desa di Kabupaten Jember dengan keunikan tersendiri dan sensasi yang berbeda dengan daerah lain.

Ia awalnya melihat foto-foto kampung Indian di media sosial dan sepertinya seru berpetualang di sana bersama anak-anak dan kerabat lainnya. Hal itu terbukti anak-anak dan saudaranya sangat berkesan menikmati wisata Kampung Indian yang sangat sejuk nan asri itu sambil mengenalkan tentang berbagai kehidupan Suku Indian.

Banyak spot yang menarik untuk berswafoto di kawasan wana wisata Kampung Indian tersebut dan saat masuk ke objek wisata tersebut terdapat rumah segitiga unik sebagai pintu masuk dan pengunjung akan disuguhi tempat yang didesain menyerupai permukiman Suku Indian yang lengkap dengan ornamen dan pernak-pernik pemukim pertama di Amerika tersebut.

Menurutnya destinasi wisata Kampung Indian menjadi salah satu objek wisata yang paling murah dan terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah, namun sensasi panorama alam yang dipadukan dengan Kampung Indian merupakan objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Ia berharap banyak bermunculan tujuan wisata baru di kota yang berjuluk Kota Pandhalungan itu, sehingga warga Jember tidak perlu jauh-jauh pergi ke Malang atau Surabaya untuk berlibur akhir pekan.

Dongkrak Wisatawan

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember Arif Tjahyono mengatakan jumlah objek wisata di Kabupaten Jember terus mengalami peningkatan secara signifikan selama lima tahun terakhir.

"Tahun 2012 masih tercatat sekitar 30 objek wisata yang tersebar di sejumlah kecamatan, namun tahun ini sudah mencapai 90 lebih objek wisata yang tersebar hampir merata di 31 kecamatan di Jember," katanya.

Menurutnya bertambahnya jumlah objek wisata di Jember tersebut berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang singgah untuk melihat salah satu tujuan wisata di kabupaten yang dikenal dengan Kota Karnaval Dunia berkat Jember Fashion Carnaval (JFC) itu.

Penambahan objek wisata itu hampir menyeluruh, baik wisata alam, buatan, maupun budaya, yang kini dikembangkan oleh masyarakat di masing-masing desa karena banyak objek wisata yang dikelola warga yang bermunculan.

Ia juga senang dengan adanya objek wana wisata Kampung Indian di Desa Kotok, Kecamatan Kalisat, yang menawarkan sensasi swafoto dengan gaya ala Suku Indian dan objek tersebut memang belum ada di Kabupaten Jember.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember itu mendapat laporan bahwa sejumlah pihak seperti Perhutani dan PTPN juga berlomba-lomba untuk membuka destinasi wisata baru bahwa Perhutani akan membuka 20 objek wisata dan PTPN akan membuka enam objek wisata.

Menurutnya sebagian besar objek wisata di Jember dikelola oleh masyarakat, sehingga pihaknya saat ini fokus untuk memfasilitasi dan melakukan pembinaan terhadap objek wisata baru yang dikelola oleh masyarakat di masing-masing desa tersebut.

Berdasarkan data, jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara pada 2012 tercatat sekitar 700 ribu orang, sedangkan tahun 2017 mencapai sekira 1,5 juta orang yang mengunjungi sejumlah objek wisata di Kabupaten Jember.

Kunjungan terbanyak memang pada kegiatan "Jember Fashion Carnaval" yang digelar setiap tahun oleh Dynand Fariz karena banyak wisatawan asing yang sudah menjadwalkan kunjungannya ke Jember jauh-jauh hari saat momentum tersebut.

“Kami berharap dengan bermunculan destinasi wisata baru di Jember dapat mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Jember baik wisatawan domestik maupun mancanegara, sehingga inovasi dan kreativitas masyarakat sebagai warga yang sadar wisata akan terus digencarkan,” ujarnya.

Arif juga mengimbau masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke luar kota untuk berkunjung ke sejumlah objek wisata karena banyak destinasi yang menarik di Kabupaten Jember, sehingga pihaknya terus melakukan pembinaan untuk kelompok sadar wisata dan melakukan sinergi dengan sejumlah pihak untuk perbaikan sarana dan penunjang objek wisata tersebut. Selengkapnya

Pulau Bidadari, Destinasi Wisata Warga Jakarta yang Penuh Sejarah

Rancangan perombakan Bidadari Eco Resort (Foto: Dok. Taman Impian Jaya Ancol)
 Melancongyuk - Kebanyakan warga Jakarta barangkali sudah familiar dengan paket wisata tiga pulau bersejarah di Kepulauan Seribu. Apalagi jika bukan Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Berfoto di depan Benteng Martello adalah salah satu aktivitas ‘wajib’ paket itu. Padahal ada satu lagi pulau yang tak kalah indah dan bersejarah, yakni Pulau Bidadari.

Letaknya hanya 15 kilometer dari Jakarta. Kamu bisa mencapainya dengan naik speedboat dari Dermaga Marina Ancol dengan lama perjalanan sekitar 20 menit. Pulau yang dulu dinamai Purmerend oleh pemerintah Hindia Belanda itu juga berdekatan dengan Pulau Onrust, Kelor, dan Cipir.

Sejak 1972, pengelolaan Pulau Bidadari diambil alih oleh PT Seabreez Indonesia, anak perusahaan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Sempat tak berpenghuni selama 30 tahun lebih, pulau seluas 6 hektar itu lalu diubah menjadi resor wisata, memanfaatkan panorama alamnya yang menakjubkan.

Namun jauh sebelum itu, Pulau Bidadari adalah saksi bisu perjalanan sejarah Tanah Air. Pada 1679, VOC membangun rumah sakit di pulau tersebut. Warga yang terjangkit penyakit lepra dan kusta dikarantina di sana dan menjadi asal muasal pulau itu disebut pulau sakit atau purmerend dalam Bahasa Belanda.

Menara Martello di Pulau Bidadari (Foto: Dok. Taman Impian Jaya Ancol)
Pulau itu juga menjadi yang lebih dulu kena saat ada serangan ke Batavia. Pada 1800 dan 1806, Inggris menyerang Pulau Bidadari hingga hancur berantakan. Pada 1827, pemerintah Hindia Belanda kembali membangun infrastruktur di sana dengan memanfaatkan tenaga tahanan untuk mendirikan asrama haji.

Asrama haji itu digunakan sebagai peristirahatan calon haji yang akan berangkat ke Mekkah dengan kapal. Beroperasi hingga 1933, asrama tersebut akhirnya ditutup. Menjelang kemerdekaan Indonesia hingga 1970, Pulau Bidadari dibiarkan tidak berpenghuni. Namun hingga kini, pengunjung masih bisa melihat sisa bangunan Menara Martello, ikon warisan sejarah peninggalan kolonial Belanda di pulau tersebut.

Dikelola menjadi destinasi wisata, pulau itu kemudian berganti nama pada awal 1970-an menjadi Pulau Bidadari yang dianggap mewakili keindahan alamnya. Dibangunlah sebuah resor untuk memanjakan wisatawan. Sejak pertama kali berdiri, Bidadari Eco Resort tidak banyak berubah sehingga PT Seabreez Indonesia memutuskan untuk merombaknya pada akhir 2017 lalu.

Konsep yang diusung adalah The Soul of Batavia. Unsur budaya Betawi yang lekat dengan warga Jakarta akan dipadukan dengan kecanggihan teknologi. Penataan ulang resor itu akan menambahkan sentuhan digital pada infrastrukturnya.

Rancangan perombakan Bidadari Eco Resort (Foto: Dok. Taman Impian Jaya Ancol)
“Dengan hadirnya nuansa baru di Pulau Bidadari, kami berharap pengunjung dapat bernostalgia dengan kenangan Jakarta tempo dulu, namun tetap kekinian. Sehingga pengunjung bisa merasakan pengalaman yang baru dan berbeda berlibur di pulau ini. Direncanakan revitalisasi ini akan diselesaikan pada ulang tahun Jakarta yang ke 491 tahun ini” ujar Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Paul Tehusijarana.

Tak hanya itu, Pulau Bidadari juga akan dicanangkan sebagai pulau berbasis budaya dan digital. Pencanangan menjadi tonggak awal revitalisasi wisata Pulau Seribu sekaligus menyambut HUT Jakarta dan perhelatan Asian Games 2018 mendatang. Rencananya akan dihadiri Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Sandiaga Uno, pada Sabtu (21/4). Selengkapnya

TANGCITY TRAVEL FAIR 2018


Melancongyuk - TANGCITY TRAVEL FAIR 2018

Tanggal: 31 Agustus–9 September 2018
Tempat: LANTAI GROUND FLOOR, TANGCITY MALL
HTM: GRATIS!

Travel Fair pertama di Tangerang Kota, dapatkan harga-harga yang terbaik, waktu liburan yang tepat, dan paket yang lebih menarik.

Info dan kontak:

  • AUF 0896 3504 1247
  • YUS 0859 2502 4004
  • DEO 0856 4319 9281
  • IRWAN 0815 1125 2096