Tampilkan postingan dengan label Arab Saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arab Saudi. Tampilkan semua postingan

Menikmati Malam Ramadhan di Museum Jeddah


Melancongyuk - Arsitektur yang menakjubkan di Museum Abdul Raouf Khalil di Jeddah membawa masyarakat Arab Saudi kembali ke Jeddah di masa lalu. Ukiran kayu tampak mendominasi sebagian besar arsitektur perkotaan, terutama pada pintu dan jendela museum.

Selama tiga hari sejak Senin (28/5) hingga Rabu (30/5) waktu Saudi, acara 'Ramadhan Malam' digelar di alun-alun di sekitar museum. Di depan setiap bangunan, terdapat ruang-ruang stand berdiri. Seluruh fasilitas tersebut dibuka untuk pertama kalinya ke publik.

Kepala penyelenggara acara, Mohamed Said, mengatakan acara ini membantu mengembalikan malam-malam tradisional Ramadhan di Saudi seperti halnya di masa lalu. Karena di dalamnya menampilkan bazar, makanan tradisional, seruan mesaharati (pembangun sahur) dan seruan Saqqa, serta lagu-lagu rakyat Hijazi.

"Tujuan dari acara ini adalah untuk menggambarkan warisan Saudi dan bagaimana nenek moyang kita dulu hidup dan itu juga membawa kembali kisah masa lalu," kata Said, dilansir di Arab News, Kamis (31/5).

Ia mengatakan, mereka melakukan upaya untuk membantu masyarakat menghidupkan kembali pengalaman di masa lalu yang berkaitan dengan Ramadhan. Seperti halnya masakan tradisional, Saqqa, Masahraty dan orang Balilah. Salah seorang pengunjung asal Ukraina yang tengah berada di Jeddah, Katia, mengatakan bahwa kegiatan Malam Ramadhan di Museum Jeddah tersebut sangat menarik. Menurutnya, dekorasi tempat ini sama seperti di dongeng.

"Saya sebenarnya sedang menunggu kesempatan untuk datang ke sini karena saya mendengar bahwa acara itu tidak terbuka setiap hari untuk umum. Saya jatuh cinta dengan tempat ini," ujar Katia.

Sementara itu, seorang 'pria Balilah' bernama Adel Abu Laban mengatakan bahwa ia memiliki banyak penonton untuk Balilahnya. Laban telah bekerja sebagai Balilah selama lebih dari 20 tahun.

"saya percaya acara semacam itu akan membantu orang-orang menjadi lebih dekat dengan tradisi mereka," ujarnya.

Balilah adalah hidangan populer di masyarakat Arab, terutama di Suriah, Irak, Mesir, dan Hijaz, Balilah merupakan sejenis makanan yang terdiri dari buncis rebus, jinten, acar dadu dengan cuka, dan rempah-rempah. Makanan ini kerap dijual di jalanan di lingkungan populer dan saat Ramadhan.

Menelusuri Masjid Nabawi


Melancongyuk - Sebagaimana banyak dijelaskan, Masjid Nabawi merupakan salah satu masjid yang sangat mulia. Rasulullah bersabda, ''Janganlah kalian berkunjung kecuali pada tiga masjid, yakni Masjid al-Haram (Makkah), Masjidku ini (Nabawi di Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina).''

Bahkan, Rasulullah juga bersabda, beribadah di Masjid Nabawi pahalanya akan dilipatgandakan hingga 1000 kali. Karena itu, tak heran, sebagian besar umat Islam yang pernah berkunjung ke Madinah, senantiasa menyempatkan diri untuk beribadah di Masjid ini. Bahkan, pada musim haji, jutaan umat Islam dari seluruh dunia, berusaha melaksanakan shalat sebanyak 40 kali (arbain) di Masjid ini selama delapan hari, untuk memperoleh keberkahannya.

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Nabi Muhammad SAW di Madinah, setelah masjid pertama Quba, sekitar dua mil dari Madinah. Masjid Quba dibangun ketika Nabi SAW menunggu Ali bin Abi Thalib yang hijrah belakangan.

Dalam Masjid Nabawi terdapat sejumlah lokasi yang sangat bersejarah dalam Islam. Mulai dari tempat tinggal (rumah) Rasulullah, rumah Abu Bakar, Umar, dan sahabat lainnya, hingga makam Rasulullah SAW.

Beberapa ahli sejarah melukiskan ruangan dalam Masjid Nabawi. Diantaranya —sebagaimana dikutip Imtiaz Ahmad dalam bukunya Historical Site of Madinah Munawarrah (Tempat-tempat Bersejarah di Madinah)— adalah Syekh Dehlawi (958-1052 H). Secara lengkap Syekh Dehlawi menggambarkan berbagai tempat dalam Masjid Nabawi, yang ditandai dengan nomor-nomornya.

1. Tiang DutaUtusan. Nabi SAW biasa menggunakan tempat ini untuk menemui para utusan yang datang. Dan para sahabat terkemuka duduk di sekitar Rasul selama pertemuan berlangsung.

2. Tiang Pengawal. Tiang ini menjadi tempat berdiri para pengawal Nabi SAW., dan tempat ini dijadikan pintu masuk Rasul ke Masjid Nabawi.

3. Tiang Tempat Tidur. Abdullah bin Umar RA bercerita, ''Nabi SAW menggunakan tempat ini sebagai tempat tidur selama i'tikaf di Masjid.''

4. Tiang Abu Lubabah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, Rasul SAW bermaksud untuk menghukum bani Quraizhah (salah satu suku Yahudi) atas pengkhianatannya pada Nabi SAW. Abu Lubabah kemudian ditunjuk menjadi penengah. Namun, tanpa sengaja, Abu Lubabah membocorkan rahasia itu kepada suku Yahudi tersebut. Kemudian ia menyadari kekeliruannya dan mengikatkan dirinya di tiang tersebut selama tujuh hari dan baru melepaskan diri setelah Allah menerima taubatnya (QS Al-Anfal [8] : 27-28).

5. Tiang Aisyah. Thabrani menyebutkan, Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, ''Ada tempat yang sangat penting dalam Masjid nabawi. Jika seseorang mengetahuinya, mereka akan mengadakan undian untuk mendapatkan kesempatan agar bisa shalat disana.'' Para sahabat berusaha mencari keterangan tersebut, namun Aisyah RA enggan menceritakannya. Dan ketika itu ada Abdullah bin Zubair RA, keponakannya. Sahabat yakin, Aisyah menceritakan tempat itu pada Abdullah bin Zubair. Ibnu Zubair RA sering shalat di tiang ini.

Rasulullah pernah mengimami shalat dari titk ini selama beberapa hari setelah adanya perubahan kiblat dari Masjid al-Aqsha ke Masjid al-Haram. Dan belakangan, Nabi mengimami shalat dari titk yang sekarang ini dikenal dengan nama Mihrab Nabawi asy-Syarif.

6. Tiang Mukhallaqah. Jabir RA meriwayatkan sebagaimana ditulis dalam Shahih Bukhari, ''Nabi SAW bersandar pada sebatang pohon kurma (yang awalnya terletak pada tiang ini) saat melaksanakan khutbah Jumat. Hingga kemudian kaum Anshar mengusulkan untuk membuat sebuah mimbar untuk Nabi SAW berkhutbah. Setelah mimbar tersebut dibuat, sejumlah sahabat mendengar pohon kurma tersebut menangis, hingga Rasul mendekatinya kemudian memeluknya.''

7. Mihrab Nabawi. Tidak ada mihrab di dalam masjid nabawi selama masa Rasul SAW dan empat khalifah Islam. Pada tahun 91 H, Umar bin Abdul Aziz pertama kali melakukan shalat di sini di dalam sebuah bentuk mihrab.

8. Mihrab Utsmani. Khalifah Usman RA mengimami shalat di tempat ini. Dan sekarang, imam Masjid nabawi juga mengimami shalat di tempat ini. Umar bin Abdul Aziz kemudian membangun sebuah mihrab di lokasi ini.

9. Mihrab Hanafi. Sebelumnya imam shalat dari empat mazhab (Hanafi, Syafii, Hambali, dan Maliki) mengimami shalat di Masjid Nabawi secara terpisah. Dan Imam Hanafi mengimami shalat dari tempat ini. Sekarang, hanya ada satu shalat berjamaah di Masjid Nabawi yang dipimpin oleh imam dari mazhab Hambali. Hal ini berlaku sejak kekuasaan dipegang oleh Pemerintahan Saudi.

10. Mihrab Tahajud. Nabi SAW biasa melakukan shalat tahajud di tempat ini.

11. Mimbar. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, Nabi bersabda, ''Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga, dan mimbarku akan berada di telaga Kautsar pada hari Kiamat.''

Berbagai pemerintahan muslim mengirimkan mimbar untuk masjid Nabawi dari waktu ke waktu. Mimbar yang ada sekarang dikirim oleh Sultan Murad ke-3 dari Dinasti Usmani tahun 998 H.

12. Tempat Muazin. Tempat ini berupa balkon segi empat, terletak di sebelah Utara Mimbar Nabawi. Selain untuk azan, tempat ini juga dipergunakan untuk menguatkan suar takbir pada shalat lima waktu.

13. Panggung di sekitar tempat tahajud.

14. Panggung tempat petugas keamanan. Saat memasuki Masjid Nabawi dari Bab Jibril, panggung ini berada di sebelah kanan. Dibangun oleh Sultan Nuruddin Zanki. Panggung ini bukanlah tempat ahli suffah, seperti perkiraan banyak peziarah.

15. Tempat Ahlu Suffah. Suffah berarti tempat beteduh. Sahabat nabi yang tidak memiliki rumah, dulunya bertempat tinggal di sini.

16. Bab Baqi. Pintu ini berhadapan dengan Bab Salam.

17. Bab Jibril. Terletak di bagian Timur, dan disebut juga dengan Bab Nabi, karena Nabi sering masuk melalui pintu ini.

18. Bab Nisa’. Pintu ini di buka oleh Umar Ibn Khaththab RA tahun 12 H. ''Umar berkata, ''Alangkah baiknya kalau pintu ini dikhususkan untuk wanita.''

19. Bir (Sumur) Thallhah. Jika memasuki masjid dari bagian paling kiri dari bab Fahd, sumur ini berlokasi sekitar 15 meter ke dalam masjid dan ditandai dengan tiga lingkaran. Sumur dan taman yang mengelilingi adalah milik Abu Talhah yang menginfakkannya karena mengharap ridla Allah, seteklah turun ayat ke-92 surah Ali Imran [3].

20. Bab Pintu Salam. Umar Ibn Khaththab RA membuka pintu ini yang terletak di tembok Masjid sebalah Barat, ketika dilakukan perbaikan Masjid tahun 12 H.

21. Rumah Abu Bakar RA. Jika seseorang berjalan dari mimbar melalui Bab Siddiq, rumah Abu Bakar terletak setelah tiang ke-5 sejajar degan Bab Siddiq. Nabi SAW pernah bersabda, ''Semua pintu rumah-rumah yang terbuka langsung ke dalam Masjid harus ditutup kecuali pintu Abu Bakar.'' (Republika)

Makkah Gencar Promosikan Wisata Sejarahnya

Pintu gerbang kota Makkah
Melancongyuk -Ada lebih dari 40 situs arkeologi dan sejarah yang tidak diketahui secara luas di Makkah. Situs tersebut mewakili sumber daya ekonomi dan sejarah yang kaya yang dapat dipromosikan di kalangan peziarah dan maupun turis lainnya ke kota tersebut. Kekayaan arkeologi ini dapat memainkan peran utama dalam rencana Visi Arab Saudi 2030.

Fawaz Al-Dahas, direktur Pusat Sejarah Makkah, mengatakan kepada laman Arab News bahwa kekayaan situs arkeologi kota tersebut mencakup beberapa lokasi terpenting dalam sejarah Islam. Pengunjung ke situs bisa menemukan sejarah Makkah yang kaya. Selain itu pemerintah juga memperbaiki prasarana penunjang di beberapa lokasi, terutama yang sulit dijangkau, seperti Gunung Tsur dan Gua Hira.

Sementara itu Saad Al-Joudi, seorang peneliti sejarah, mengatakan bahwa pembangunan mobil kabel untuk Gua Hira dan Gunung Thor adalah satu dari beberapa gagasan untuk mempromosikan situs-situs bersejarah di Makkah. Pusat informasi akan dikelola oleh Komisi Pariwisata dan Warisan Budaya Saudi. Lulusan universitas-universitas Saudi akan dipekerjakan untuk mengedukasi pengunjung di situs sejarah dan monumen Islam yang disebutnya membantu “melawan takhayul yang datang dari luar negeri.”

Dalam sebuah ceramah pada hari Rabu di Klub Budaya Makkah, Dr. Adnan Al-Sharif, profesor sejarah dan peradaban di Universitas Umm Al-Qura, mengatakan bahwa kota Makkah sangatlah unik. “Umm Al-Qura (ibu dari semua kota) yang disebutkan dalam Alquran dan Hadis, dan memiliki status khusus karena komponen budaya, kemanusiaan dan sejarahnya yang kaya,” katanya. Ia menambahkan bahwa Masjid Agung Makkah, landmark dan arsitektur kota yang khas memiliki peran dalam Visi 2030. “Kota ini bukan hanya tempat untuk ritual keagamaan, namun juga merupakan tambahan yang kaya akan kehidupan ekonomi dan budaya Kerajaan,” katanya.

Menurut Syarif ada tiga jenis sumber sejarah tentang Makkah. Pembicaraan pertama tentang kebajikannya, yang kedua mengeksplorasi sejarah kota, dan yang ketiga membahas orang-orang terkenalnya. Sejarah Makkah menurutunya dibagi menjadi tiga fase: era pra-Islam, era Islam dan era modern. Makkah pentingnya didirikan pada periode Islam, yang meluas sampai akhir era Ottoman. Di era Saudi, kota ini menikmati kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan terus berlanjut.

Hotel Baru di Madinah Tawarkan Fasilitas Istimewa untuk Jamaah


Melancongyuk - Saja Hotels & Resorts, perusahaan pengelola hotel dan kondominium terkemuka di Saudi, baru-baru ini mengumumkan pembukaan Hotel Saja Al Madinah baru di kota suci tersebut.

Hotel baru ini dirancang sebagai akomodasi terbaik untuk para peziarah dan wisatawan. Hotel bintang empat ini terletak strategis di sisi utara kawasan pusat, berjarak dekat dari Masjid Nabawi.

Mengomentari pembukaan tersebut, Mohannad bin Nabeel Khogeer, CEO Saja Co. mengatakan: "Karena pengalaman kami yang luas di pasar perhotelan Saudi, kami dengan mudah dapat memenuhi kebutuhan para peziarah yang mengunjungi Kota Suci Madinah selama haji dan musim umrah. Saja Al Madinah Hotel menyediakan layanan perhotelan dan kenyamanan berkualitas tinggi, lokasi premium dan harga terjangkau dan kompetitif, yang semuanya membantu menjadikan haji dan umrah sebagai pengalaman yang tak terlupakan bagi pengunjung."

Dia mengatakan: "Sejalan dengan Visi Saudi 2030, yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah peziarah dan pengunjung umrah, Hotel Saja Al Madinah adalah representasi hotel unik, yang menjawab permintaan yang semakin meningkat, terutama di Mekkah dan Madinah. Kami yakin akan kesuksesan Hotel Saja Al Madinah, dengan keragaman penawaran, kemewahan, kenyamanan dan keterjangkauannya serta berharap dapat melakukan ekspansi lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan pengunjung di Kota Suci Mekkah dan Madinah".


Desain hotel yang unik menggabungkan modernitas dan keasliannya yang terinspirasi oleh arsitektur Islam. Hotel ini mencakup 544 kamar, lantai eksekutif, ruang santai, gym dan restoran khusus yang menyajikan masakan internasional lezat, menunjukkan definisi keramahan Saudi yang selalu siap melayani para peziarah dan pengunjung Masjid Suci.

Hotel Saja Al Madinah menawarkan layanan perhotelan terpadu berkualitas tinggi untuk membantu peziarah dan wisatawan melakukan ritual keagamaan mereka di Kota Suci dengan mudah dan nyaman. Ini juga memberi mereka kemudahan untuk dekat dengan Masjid Nabawi. Tim multi-bahasa dan tim profesional Saja Al Madinah akan membantu pengunjung yang mengalami hambatan bahasa dan memenuhi kebutuhan para peziarah dari seluruh dunia dengan layanan berkualitas tinggi.

Potret Langka, Penampakan Ka'bah Tanpa Kain Penutupnya


Penutup Kakbah tersebut biasa disebut kiswah. Nah, dilansir dari Al Arabia, media tersebut mengunggah foto langka Kakbah yang diambil pada 1940.



Dalam foto tersebut, terlihat jelas eksterior bata merah yang biasanya ditutup dengan hiasan kiswah. Menurut manajer umum pabrik pembuatan kiswah Kakbah Dr Mohammed Abdullah Bajuda, penggantian kiswah biasa dilakukan tiap tahun dengan dimulainya bulan Zulhijah dari kalender Hijriah. Pada saat itulah biasanya warga bisa melihat rupa Kakbah sebenarnya.

Kiswah baru tersebut diterima dalam sebuah upacara yang diadakan khusus. Pada tanggal 9 di bulan yang sama saat matahari terbit, penutup yang lama diganti dengan yang baru. Prosesnya berlanjut sampai salat Ashar, baru kemudian kiswah tua dibawa kembali ke pabrik dan disimpan dengan aman.

Kiswah yang menakjubkan

Biaya pembuatan kiswah yang digunakan untuk menutupi Kakbah dapat mencapai 22 juta riyal atau sekitar Rp 79 miliar. Pembuatannya sendiri butuh waktu sampai 10 bulan, demikian dilansir dari laporan Al Arabiya.

Harga penutup Kakbah itu sangat mahal karena terbuat dari bahan sutera murni seberat sekitar 670 kilogram. Tak hanya itu, dibutuhkan juga 10 kilogram benang atau kabel perak berlapis emas halus.

Kiswah biasanya terdiri dari 47 gulungan dengan panjang masing-masing 14 meter dan lebar 95 sentimeter. Di penutup itu juga terdapat ayat Alquran sehingga terlihat amat megah sekaligus sakral.

Lebih dari 240 orang terlibat di pabrik yang membuat kiswah di Saudi Arabia. Pabrik itu tentunya dilengkapi dengan mesin canggih. Bahkan terdapat mesin jahit terbesar di dunia dengan ketinggian 16 meter. (liputan6)

Menyusuri Jejak Nabi Muhammad SAW di Thaif

Masjid Addas di Thaif, Arab Saudi (Foto: media center haji)
Adalah Addas, pemuda Kristen yang menghampiri Nabi Muhammad SAW saat melepas lelah di kebun kurma dalam perjalanan ke Thaif. Nabi yang saat itu berteduh karena dikejar-kejar orang Quraisy Mekah yang tak menghendaki dakwahnya, beristirahat di salah satu kebun kurma milik seorang Kristen.

"Siapa namamu. Apa agamamu," kata Muhammad kala itu. "Addas namaku. Aku mengikuti agama yang dibawa Nabi Yunus," terangnya. Muhammad yang tampak bersemangat lalu menjawab, "Yunus itu saudaraku (sesama Nabi)."

Setelah berdialog, Addas kemudian menyatakan memeluk agama baru yang dibawa Nabi Muhammad, yaitu Islam.

Lokasi pertemuan Nabi Muhammad dengan pemuda Addas itu kini masih utuh bekasnya. Masyarakat menandai lokasi itu dengan membangun masjid yang dikenal dengan nama Masjid Addas.

Berada di tengah kebun anggur yang berhimpitan dengan rumah-rumah penduduk, Masjid Addas berdiri kokoh dengan kondisi yang meski kecil dan tempat salatnya sempit, ditandai dengan menara yang lebih tinggi dari rerata rumah penduduk. Posisinya tidak jauh dari Wadi Matsna, tempat Nabi Muhammad dilempari batu oleh penduduk Bani Tsaqif.

Tak ada yang istimewa dengan Masjid Addas, kecuali menyiratkan jejak perjuangan Nabi Muhammad kala membawa misi agama baru bagi jazirah Arab, Islam. Berbeda dengan masjid-masjid di Madinah dan Mekah yang sangat familiar bagi jemaah Indonesia, jejak Nabi di Thaif tak banyak diketahui.

Kiai Asep Saifuddin Halim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet, Kamis siang 7 September 2017, membawa jemaah haji berziarah ke Thaif.

Menurutnya, tidak ada jemaah Indonesia yang ke Thaif. Rata-rata KBIH mengajak jemaah berziarah ke Jeddah setelah pelaksanaan haji selesai

"Thaif belum menjadi tujuan ziarah. Mungkin belum dikenal. Tapi juga karena pimpinan KBIH tidak punya link dengan agen-agen travel di sini," ujar Kiai Asep.

Menurut Asep, sebenarnya banyak lokasi ziarah bagus di Thaif. Selain Masjid Addas, ada jejak Nabi di Masjid Kuk atau sikut. Tempat ziarah lain adalah Masjid Abdullah bin Abbas.

Foto: Masjid Abdullah bin Abbas di Thaif
 Nama Masjid Kuk sesungguhnya hanya penanda berupa bangunan kecil dari batu bata yang sangat sederhana. Di dalamnya ada ruangan kecil yang bisa digunakan untuk shalat beberapa orang. Kondisinya tak terawat. Berada di kaki sebuah bukit yang dipercayai sebagai tempat Nabi beristirahat saat ke Thaif kedua kalinya.

Menurut penuturan Majid Abdullah, pemandu wisata di Thaif, di lokasi itu pernah terjadi mukjizat Nabi Muhammad SAW. Saat Nabi beristirahat sambil meletakkan kepalanya dengan penguat siku tangannya di atas batu. Tiba-tiba batu itu ambles. Di tempat itulah kemudian diberi tanda dengan didirikan masjid dengan nama Kuu (Kuw').

Foto: Masjid Kuu (baca: Kuw) di Thaif
Sebagai kota dengan cuaca bersahabat, Thaif seakan oase bagi peziarah haji tahun ini yang terpapar cuaca panas di Mekah dan Madinah. Dengan kontur tanahnya yang berbukitan dan lembah, Thaif menawarkan tempat istirahat yang menyenangkan.

Tak heran bila penduduk Saudi yang berasal dari kota besar seperti Mekah, Jeddah, dan sekitarnya memilih Thaif sebagai tempat berlibur dan rekreasi keluarga. Apalagi di malam Jum'at yang menjadi hari libur esok harinya. Menikmati udara sejuk sambil menikmati sore di bebukitan Thaif adalah waktu yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Selain tampat berziarah, Thaif juga menyajikan kuliner dan pusat perbelanjaan yang ramai. Pasar buah segar beraneka warna dan jenis. Siapa yang melihat pastilah terpesona. Beragam buah, mulai dari delima, anggur, tin, jeruk, dan tentu kurma muda dapat Anda pilih dan langsung bisa dimakan di pinggiran bebukitan sambil menikmati senja.

Bagi yang suka belanja, jenis parfum khas Thaif dari bunga mawar atau rose parfum tersaji berderet di sepanjang jalan, tinggal memilih yang disukai sesuai isi kantong. Dan sebelum pulang, pastikan melengkapi ziarah Anda dengan menyeruput teh manis dengan daun niknak yang disajikan secara khas di jalan-jalan Kota Thaif.

Bagi Anda yang telah sering ke Jeddah, tidak ada salahnya bila sesekali mencoba berziarah ke Thaif. (ren)

Foto: Toko yang menjual aneka buah-buahan di Thaif
Sumber: viva

Mengenang Perjuangan Syuhada di Masjid Khandaq


Kompleks bangunan masjid itu awalnya lebih dikenal dengan Masjid Tujuh (Sab'ah). Terletak di kaki bukit Sala', Madinah. Berjarak sekitar tiga kilometer dari Masjid Nabawi.

Berdiri megah dengan dua menara kembar, warna putih mendominasi bangunan utama masjid. Sepintas tidak ada yang menonjol. Seperti bangunan masjid umumnya di Madinah, desain sudut-sudut tegas menjadi cirinya.


 Pintu masuk utama untuk jemaah pria berbentuk gerbang yang didominasi bentuk segi empat. Empat tiang bulat menyangga, masing-masing dua di kanan dan kiri.

Meski sederhana, ornamen yang persis menghiasi bagian atas gerbang menambah aksen anggun masjid. Berbentuk melengkung mirip kubah masjid.

Sebelum masuk gerbang ini, jemaah terlebih dahulu melalui pintu pagar besi setinggi lebih dua meter. Terbuka lebar dengan desain minimalis yang klasik.

Memasuki bagian dalam masjid, kesan anggun makin terlihat. Tiang-tiang penyangga masjid terkesan kokoh, dengan detail sederhana, namun artistik. 

Bagian salat untuk pria juga dipisahkan dengan perempuan. Kebersihan masjid sangat terjaga, mulai dari toilet, tempat wudu hingga di pelataran masjid. Sejumlah petugas kebersihan juga ditempatkan di sekitar area masjid.

Lokasi parkir juga cukup dekat dengan bangunan utama masjid. Tampak beberapa bus terparkir di area yang cukup luas.

Bagi jemaah yang ingin membawa kenang-kenangan setelah berkunjung di masjid ini, di sekitar lokasi parkir juga tersedia toko suvenir. Berbagai koleksi dijajakan, dari sajadah, parfum, hingga kurma.

Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun untuk mengenang dan menghormati jasa syuhada serta pejuang saat Perang Khandaq.

Saat itu, atas saran Salman Al-Farisi, Rasulullah SAW dan para sahabatnya membuat parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan dari kepungan kelompok Yahudi, di antaranya Bani Nadir dan Bani Ghathfan. Lawan yang harus diadang saat itu sekitar 10.000 jiwa.

Parit sepanjang 5,5 kilometer yang dibikin berkedalaman 3,2 meter dan lebar 4,6 meter. Penggalian parit rampung selama 90 hari, dan dibangun tujuh pos. Pos-pos tersebut, yang menurut beberapa sumber, digunakan untuk salat tujuh sahabat Rasulullah.

Lantas, untuk menghormati pengorbanan para sahabat itu, dibangun masjid-masjid yang ukurannya tidak terlalu besar. Bahkan, lebih mirip pos keamanan.

Karena awalnya ada tujuh masjid yang dibangun, maka dinamakan Masjid Tujuh (Sab'ah). Yakni, Masjid Al-Fath, Masjid Salman Al-Farisi, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Masjid Umar bin Khattab, Masjid Utsman bin Affan, Masjid Ali bin Abi Thalib, dan Masjid Fathimah Az-Zahra.

Dari ketujuh masjid itu, Masjid Al-Fath memiliki peran mulia, karena di masjid yang dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu, Rasulullah SAW memimpin kaum Muslimin menghadapi pasukan Quraisy. Rasulullah berdoa selama tiga hari berturut-turut hingga Allah mengabulkan doa-doanya.

Namun, kini, untuk kepentingan perluasan kawasan kota, beberapa masjid terkena penggusuran oleh Pemerintah Arab Saudi. Tersisa kini lima masjid, sehingga kemudian dinamakan pula Masjid Khamsah (Masjid Lima). Beberapa orang juga menyebutnya dengan Masjid Khandaq.