Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan

Nikmati Sejuk dan Nyamannya Pesona Alam Coban Jidor


Melancongyuk - Buat anda yang suka sekali dengan wisata alam, maka wisata Coban Jidor ini dapat menjadi salah satu pilihan buat anda untuk mengisi libur anda.

Tempat ini berada di kawasan Desa Ngadireso, Kecamatan Jabung, yang baru di buka pada tahun 2016 ini masih belum banyak wisatawan yang berkunjung.

Ketika anda berkunjung ke tempat wisata ini anda akan merasakan sensasi alam yang tenang dan alami.

Akses untuk menuju tempat wisata Air Terjun Jidor ini sangatlah mudah, bahkan jika anda masih baru berada di Malang dapat dengan mudah menemukan tempat ini.

Akan terasa lebih dekat jika anda lewat daerah tumpang, selain itu jalannya masih satu arah dengan Coban Jahe yang lebih dulu dikenal oleh para wisatawan.

Pada saat akhir pekan wisata Coban Jidor ini di datangi pengunjung yang jumlahnya mencapai 30 orang.

Jangan takut untuk mengunjungi wisata Coban Jidor ini, karena setiap wisatawan telah di cover dengan asuransi kecelakaan.

Tiket masuk ke tempat wisata Coban Jidor ini cukup murah, hanya bekisar 5.000 rupiah setiap orangnya.

Wisata Coban Jidor ini masih tergolong bersih, karena masih belum banyak pengunjung yang datang ke tempat ini dari pada tempat lainnya.

Selain itu pihak pengelola tempat wisata Coban Jidor ini selalu menjaga kebersihan dari tempat wisata ini.

Dalam setiap perjalanan anda menuju air terjun, anda akan menemui banyak sekali tempat sampah untuk tetap menjaga kebersihan dari tempat wisata ini.

Dari tempat parkir wisata ini, anda hanya cukup menempuh perjalanan dengan jarak sekitar satu kilo meter saja.

Anda tidak perlu takut dalam setiap perjalanan, karena pihak pengelola sudah menata bambu untuk anak tangga pada setiap jalanan menurun.

Serunya Berburu Pelangi Abadi di Lereng Gunung Semeru


Melancongyuk - Jalan menembus hutan. Menyurusi jalan tanah berliku. Jalur jalan kaki, berpayung rimbun hutan lereng barat Gunung Semeru, menjadi jalur pembuka menuju ke Coban Pelangi. Jalur perjalanan sering memberikan kejutan tanjakan, dan turunan curam.

Berkelok aliran sungai di tepi jurang, menjadi penghias setiap pejalanan kaki yang menyusuri jalan tanah liat. Air bening mengalir membelah hijaunya hutan tropis. Liukan alirannya, layaknya ular panjang yang menggeliat di atas permadani hijau.

Gemercik air sungai yang alirannya membentur batuan hitam, samar-samar terdengar dari kejauhan, beradu dengan kicau burung, dan suara candaan gerombolan kera. Selepas dari puluhan kelokan, dan turunan curam, sebuah jembatan bambu khas pegunungan, akan menyambut kaki yang mulai lunglai menghadapi jalan setapak.

Jembatan bambu yang melintang di atas aliran Sungai Amprong. Airnya begitu jernih, dan indah. Hijaunya pepohonan, semakin membuat teduh jembatan bambu tersebut. Sesekali air membuih seputih kapas, saat harus membentur bebatuan di tengah aliran sungai.

Segarnya air, membuat langkah kaki yang mulai gontai diterjang jalan setapak berliku dan menurun, terhenti. Jalan setapak di sisi jembatan, menuntun langkah kaki-kaki lelah, untuk mencebur ke alirannya, mencari kesegaran sesaat, sebelum melanjutkan perjalanan menuju pelangi abadi.

Airnya begitu jernih, dan dingin. Bukan hanya kaki yang terjebur di dalam aliran derasnya. Tetapi, wajah dan tangan tidak ingin ketinggalan untuk terbasuh kesegaran dan kemurnian air pegunungan tersebut.

Segarnya air di lereng barat Gunung Semeru, yang dipercaya masyarakat kuno, sebagai gunung suci ini. Seolah menjadi semangat baru dan menghapus seluruh kelelahan untuk melanjutkan perjalanan menuju Coban Pelangi.

Selepas jembatan bambu dan menghabiskan lelah dengan segar air sungai nan jernih, nampak Coban Pelangi menghujam deras dari ujung tebing. Air terjun di celah bukit setinggi 50 meter tersebut, menghadirkan pelangi abadi. Pelangi yang lahir dari butiran air, saat terpapar sinar mentari.

Sepasang mata Muhammad Topan, 14, seolah tidak ingin berkedip. Saat menyaksikan deburan air jernih, meluncur deras di antara celah bukit. “Wah, luar biasa indah. Tidak rugi datang ke sini,” ujar remaja yang masih duduk di bangku SMP itu kepada teman-temannya.

Belasan remaja itu, langsung berlarian menuju ke aliran air di sekitar air terjun. Mereka tidak sabar menikmati segarnya aliran air dari deburan air terjun. Derasnya air yang jatuh, memaksa mereka tidak bisa mendekat ke air terjun, dan lebih memilih menikmati segarnya air di alirannya, sambil menikmati selimut kabut dari butiran air yang menghadirkan warna pelangi.

Air terjun Coban Pelangi menawarkan keabadian warna pelangi. Air terjun ini, berada di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena berada di lereng Gunung Semeru dan hutannya yang masih lebat membuat udara di kawasan itu bisa mencapai 19 derajat Celsius.

Kedamaian abadi, yang juga hadir di antara masyarakat desa. Air terjun ini berada di Desa Gubukklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Lokasinya berada di jalur pendakian menuju ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Desa Gubugklakah, berada di sebelah timur Kota Malang. Berjarak sekitar 32 kilometer (km). Banyak angkutan umum, yang bisa mengantarkan para pengunjung datang ke tempat wisata alam ini. Bahkan, saat ini hampir setiap hari kawasan air terjun selalu ramai wisatawan.

Ramainya wisatawan di Coban Pelangi ini, diakui oleh Harini, 50, pedagang makanan yang berjualan di sepanjang jalur menuju ke air terjun. “Kalau dahulu ramainya hanya di hari Sabtu, dan Minggu. Sekarang, hampir setiap hari ramai. Utamanya saat pagi hari,” ujarnya.

Ramainya pengunjung di air terjun yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Malang tersebut karena banyaknya paket wisata ke Gunung Semeru dan Gunung Bromo yang menjadikan Coban Pelangi sebagai salah satu bagian dari paket perjalanan wisata.

Coban Pelangi sepertinya sudah menjadi magnet untuk dikunjungi. Tempat ini seolah menawarkan keabadian, dan kesucian di Gunung Mahameru, yang suci. Pelanginya selalu abadi, mewarnai dan menghidupi segala makhluk.

Wilayah Kabupaten Malang tidak habisnya menawarkan keindahan alam. Wilayah pegunungan, pantai, dan desa-desanya hadirkan keindahan, layaknya pecahan surga yang diturunkan ke bumi untuk segala makhluk menikmati kedamaiannya.

Bupati Malang, Rendra Kresna menyebutkan, wisata di wilayah Kabupaten Malang, sangat lengkap. “Tidak cukup satu hari untuk menikmati keindahan Kabupaten Malang. Para wisatawan harus menginap di sini beberapa hari, agar bisa berwisata sampai puas,” papar dia.

Potensi alam yang luar biasa membuat Kabupaten Malang selalu menjadi maghnet bagi siapapun untuk mengunjunginya. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya jutaan wisatawan setiap tahunnya. Pada tahun 2017 silam, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 5,5 juta orang. Tahun ini, Rendra sangat optimistis jumlahnya akan mengalami kenaikan yang signifikan.

Waduk Selorejo, Bendungan di Malang yang Dikelilingi Tiga Gunung


Melancongyuk - Berbicara soal Malang, Jawa Timur, barangkali terbersit suasana sejuk dengan angin semilir yang menyambut wajah kita dengan ramah. Sensasi menyejukkan mata dan batin akan semakin kamu rasakan saat berkunjung ke Waduk Selorejo. Sejauh mata memandang, kamu bisa melihat tiga gunung mengelilingi bendungan seluas 650 hektar itu.

Ya, view Gunung Kelud, Gunung Anjasmoro, dan Gunung Kawi dari kejauhan mempercantik Waduk Selorejo. Belum lagi pemandangan nelayan yang sibuk menebar jala dan tumbuhan hijau di sekitar waduk. Panorama itu tampak bagai lukisan maha karya Sang Pencipta.

Bendungan Selorejo terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Malang. Jaraknya dari pusat Kota Malang sekitar 48 kilometer. Tak heran kamu akan merasa sejuk jika bertandang ke sana. Sebab, waduk yang juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik itu berada pada ketinggian 600 mdpl.

Bendungan yang diresmikan pada 1970 dan dikelola oleh Perum Jasa Tirta itu juga difungsikan sebagai destinasi wisata. Traveler bisa menantang adrenalin dengan melewati jembatan gantung yang melintang di sana. Saat kamu menyeberanginya, jembatan itu akan sedikit bergoyang mengikuti langkahmu. Seru!

Yang lebih menarik lagi, kamu bisa naik perahu motor milik penduduk setempat untuk menyeberang ke Pulau Jambu. Ya, pulau seluas 7,5 hektar itu terletak di tengah waduk dan dimanfaatkan sebagai kebun jambu. 
Untuk menyewa perahu motor, kamu harus menyiapkan Rp 50-100 ribu per jam. Ada juga perahu dayung yang disewakan Rp 30 ribu per jam. Sedangkan tiket masuk kebun jambu dikenai Rp 5 ribu per orang.

Di sana kamu bisa memetik jambu biji yang dibiarkan tumbuh rimbun. Kamu bisa memakan langsung hasil petikanmu sepuasnya. Selain itu, jambu biji ini juga bisa kamu beli dan dibawa pulang. Menyenangkan, bukan?

Bagi kamu yang hobi memancing, jangan lupa siapkan kailmu saat berkunjung ke Bendungan Selorejo. Potensi ikan air tawar di waduk itu memang besar. Sebab, sekitar 400-500 ribu bibit ikan disebar tiap tahun. Mulai dari nila tombro, wader, mujaer, tawas, udang, dan ikan lainnya bisa kamu buru.
Fasililtas untuk pengunjung di Selorejo pun cukup lengkap. Selain perahu wisata, telah tersedia pula hotel, cottage, food center, lapangan golf 9 hole, hingga camping ground.

Dengan fasilitas yang lengkap, tiket masuk Taman Wisata Selorejo terbilang cukup terjangkau, yakni dipatok Rp 10 ribu per orang. Dengan suasana menyejukkan dikelilingi tiga gunung dan aktivitas wisata yang menyenangkan, siapa yang bisa menolak?

Yuk, Berwisata Edukasi di Kampung Sapi Adventure Batu


Melancongyuk - Kota Batu, Jawa Timur dikenal dengan ragam wisata alam dan edukasi yang dapat Anda kunjungi. Kini, ada Kampung Sapi Adventure menjadi bagian tempat liburan baru di daerah tersebut.

Kampung Sapi Adventure berlokasi di Jalan Makam, Beji, Junjero, Kota Batu Jawa Timur. Di sini, Anda bisa berwisata edukasi dengan berbagai pengalaman menarik. Tentunya menggali pengetahuan mengenai sapi.

Ketika berinteraksi dengan sapi-sapi ini, Anda akan didampingi oleh penjaga yang nantinya akan menjelaskan secara rinci tentang sapi, serta hewan ternak lainnya. Para wisatawan pun akan diberi kesempatan untuk memberi makan hewan-hewan ternak di Kampung Sapi Adventure.

Selain memberi makan, Anda juga akan diajari cara memerah susu sapi yang baik dan benar. Proses tersebut memang membutuhkan keahlian juga kesabaran. Jika tekhniknya salah, maka sapi ini akan berontak. Untuk itu para pengunjung akan diberi arahan oleh para pembina wisata di sini.

Anda tidak hanya akan melihat dan belajar memerah sapi. Di sini juga ada area outbond. Anak-anak pun bisa memainkannya, karena terjamin keamanannya. Terdapat mjemabatan kecil untuk melatih keseimbangan, juga tebing untuk latihan memanjat.

Harga tiket masuknya pun cukup terjangkau yaitu dengan kisaran harga mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu per-orangnya. Ada dua macam pilihan, Anda bisa memilih meggunakan tour guide atau tidak. (Sportourism)

Jernih dan Segar, Pemandian Instagramable Ini Dipenuhi Ganggang Hijau Menakjubkan


Melancongyuk - Sudah pernah coba berenang di antara ganggang-ganggang berwarna hijau yang menakjubkan? Yang penasaran, kamu bisa datang ke Pemandian Sumber Sirah. Tempat wisata ini menyajikan tempat pemandian bawah air yang memesona.


Airnya jernih dan menyegarkan badan, hingga kamu akan dengan mudah melihat permukaan tempat pemandian. Yang dipenuhi dengan ganggang hijau dan ikan-ikan kecil berenang di antara bebatuan. Berenang di sini sayang banget kalau enggak bawa kamera underwater. Kedalamannya hanya 80 cm hingga 1.5 meter. Selain berenang, kamu juga bisa snorkeling dan menyewa ban untuk tubing.


Sebelumnya, tempat pemandian ini merupakan tempat menyuci bagi warga Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Hingga akhirnya netizen menemukan Pemandian Sumber Sirah ini, dan menyebarkan foto-foto keindahan tempat tersebut di sosial media.


Sekarang, Sumber Sirah menjadi tempat wisata keluarga yang hits. Harga tiket masuknya sangat ekonomis, yakni Rp3 ribu per orangnya.

Pemakaman Jadi Destinasi Wisata di Kota Malang


Melancongyuk - Walikota Malang H. Moch Anton resmikan Kampung Kramat sebagai destinasi wisata baru di Jalan Bali, Kelurahan Kasin, Kota Malang, Selasa (13/02/2018). Hal ini dilakukan oleh tangan orang-orang kreatif, sehingga perkuburan menjadi tempat wisata. Di Kampung Kramat ini juga dijual berbagai hasil karya warga sekitar, mulai dari tasbih, berbagai kerajinan dari ban bekas, sampai dengan kopi cap tulang.

Abah Anton (H. Moch Anton) mengungkapkan, dengan diresmikannya Kampung Kramat menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Malang menjadi harapan tersendiri untuk bisa menyejahterakan warga kampung ini. Hal ini sejalan dengan progarm Pemerintah Kota Malang untuk mengembangkan kampung tematik di Kota Malang.

“Sesuai dengan tagline Kampung Kramat ini ’Kematian Yang Menghidupi'. Kami berharap keberadaan kampung ini bisa semakin membawa keberkahan,” jelas Abah Anton.

Berkunjung ke Kampung Kramat juga bisa melihat berbagai aktivitas masyarakatnya, mulai saat mereka memandikan jenazah, juru rawat makam, tukang nisan dan lain-lain. Sebelum diresmikan menjadi kampung destinasi wisata, kampung ini juga sudah meraih juara tiga pada lomba kampung tematik yang digelar Pemerintahan Kota Malang.

Kampung Kramat yang ada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) ini menjadi unik, karena berada di tengah pemakaman. Oleh sebab itulah, kampung ini disebut sebagai Kampung Kramat.

Keunikan inilah yang membuat Pemerintah Kota Malang, Utero Indonesia (perusahaan branding), dan perusahaan cat PT Propan Raya (pendukung CSR) dengan MCF (Malang Creative Fusion) sebagai kolaborator tertarik menjadikan Kampung Kramat sebagai destinasi wisata kampung tematik baru di Kota Malang.

Keliling Dunia Cukup Sehari


Melancongyuk - Liburan panjang terkadang justru menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang yang tidak tahu ke mana mereka akan menghabiskan waktu untuk pergi berlibur. Apalagi bagi orang yang ingin sekali mencoba hal baru yaitu dengan berlibur ke negeri orang tapi isi dompet berkata lain. Untuk itu, mengunjungi salah satu museum di kota Malang adalah jawabannya.

Ya, kalau ingin merasakan betapa asyiknya keliling dunia hendaknya singgahlah ke Museum Angkut yang terletak di Kota Wisata Batu, Malang, Jawa Timur. Tidak perlu merogoh kantong hingga ratusan ribu rupiah untuk masuk ke museum tersebut. Cukup dengan uang yang tidak lebih dari Rp100.000,00 kita sudah boleh masuk ke dalam.

Ketika memasuki museum ini mata para pengunjung akan dimanjakan oleh desain interior yang menakjubkan dengan disuguhkannya banyak kendaraan unik dari zaman kuno seperti kereta berkuda hingga mobil sport seperti zaman sekarang. Kita sebagai pengunjung bisa foto di setiap bagian yang ada. Bahkan terdapat fotografer yang bersedia mengambil gambar kita di beberapa spot foto menarik dengan mobil sebagai objeknya.


Untuk mendapatkan hasil foto yang telah diambil oleh sang fotografer, kita hanya perlu membayar sekitar Rp 50.000,00 saja untuk setiap foto yang dicetak. Dengan harga demikian terbilang tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan momen yang didapat. Tempat pengambilan foto berada di lantai atas. Di lantai tersebut juga terdapat banyak tempat untuk tampil narsis.

Selain objek-objek di dalam ruangan, terdapat juga helikopter yang terletak di luar ruangan. Kita bisa berfoto atau mungkin duduk santai di tempat tersebut sambil memandangi indahnya panorama kota Batu jika dilihat dari atas. Sebagai bentuk keindahan lain juga dihiasi dengan bendera-bendera dari beberapa negara. Suasananya seperti di luar negeri.

Jika menelusurinya lebih dalam lagi yaitu ke lantai yang lebih atas, pengunjung akan dibuat takjub dengan tatanan dalam ruang yang rapi nan apik, hiasan dinding yang menawan, dan sangat bagus untuk diabadikan. Jika terus mengikuti jalan, yaitu keluar dari ruang tersebut, maka akan terlihat konsep negara China.

Dengan lampion-lampionnya yang khas, serta gerobak angkut zaman dulu, dan pemandangan pinggir jalan seperti gerobak-gerobak yang menjual makanan. Jika datang tepat saat liburan atau akhir pekan tiba, maka kita dapat melihat Parade Museum Angkut+Movie Star Studio yang berupa sebuah parade tokoh action figure yang tampil bersama alat transportasi unik dan juga pertunjukan berupa hiburan di panggung Gangster Town yang berada di Museum Angkut.


Jika beruntung, kita bisa berfoto dengan para tokoh. Di bagian yang lebih dalam lagi kita akan disambut dengan konsep yang membuat seolah-olah sedang berada di luar negeri, tepatnya di Amerika. Jika ingin suasana terasa lebih nyata, maka sangat disarankan untuk memasuki wilayah dengan konsep luar negeri ini saat petang menuju malam hari.

Karena suasana malam yang begitu syahdu dengan angin sepoi-sepoi sambil duduk dan memesan minuman di bar pinggir jalan membuat kita ikut mencair dalam suasana yang ada. Selain bar, di sepanjang jalan tersebut juga terdapat sebuah bioskop di mana bioskop tersebut juga memutarkan sebuah film pada tahun di bawah 90-an.

Suasana klasik sungguh mengajak orang yang menikmatinya menjadi bernostalgia, terlebih jika orang tua yang merasakannya, bisa-bisa jadi ingat waktu dulu semasa masih berpacaran nih, hihihi. Untuk yang beragama muslim tidak perlu khawatir, di tempat ini juga disediakan musala bagi yang ingin melaksanakan ibadah, juga kamar mandi yang sangat bersih.

Setelah melewati jalan tersebut, selanjutnya para pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lebih menarik lainnya. Pengunjung melewati sebuah gedung yang berisi motor-motor kuno, seperti vespa-vespa model lampau yang dicat kembali sehingga terlihat begitu lucu dan segar bila dipandang.

Setelah puas menikmati deretan pajangan motor-motor kuno, selanjutnya kita dapat melangkah ke tempat yang mengusung konsep Benua Eropa. Ada negara Inggris, Belanda, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Tersedia juga Menara Eiffel bagi pengunjung yang ingin mengambil gambar replika tersebut.

Bahkan, kita juga dapat berfoto bersama patung seorang ratu asal Inggris di sebuah tempat mewah layaknya istana dengan duduk di sebelahnya seolah kita sebagai raja atau bagian dari keluarganya. Petualangan mengelilingi dunia tidak hanya sampai di situ. Jika keluar dari istana tersebut, kita juga akan diperlihatkan istana lain yang tak kalah megah yang bernama Buckingham Palace.


Sekeliling istana tersebut dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna khas Eropa yang sangat indah. Benar-benar terasa seperti di Eropa. Seperti tak ada habisnya, saat keluar dari museum, kita akan disambut dengan suasana yang Indonesia banget. Mulai dari museum topeng, kain atau jarik, serta pasar apung beserta kuliner-kulinernya yang membuat tidak ingin pulang.

Rasa lelah setelah seharian berjalan sudah terbayar lunas. Justru rasanya ingin kembali dan mengulanginya lagi. Selain rasa puas karena bisa berfoto-foto dan menikmati suasananya, momen seperti itu tentunya juga sangat pas bila kita melaluinya bersama keluarga. Oleh karena itu, dapat dijamin walau sudah belasan atau bahkan puluhan tahun lamanya masa-masa itu sudah berlalu, pasti akan tetap terkenang dan membuat rindu itu muncul lagi.

Tempat wisata ini menjadi destinasi yang sangat disarankan bila ingin mempunyai banyak foto dengan momen tak terlupakan. Penataannya yang menjadikan konsep kedaerahan Indonesia sebagai pijakan terakhir sebelum pulang dari tempat itu dirasa sangat pas dan cocok. karena dengan begitu dapat membuat para pengunjung tetap ingat akan kampung halamannya meski sudah menjelajah beberapa area dengan konsep negara lain.

Justru di sinilah nilai terpenting dapat dipetik. Secara tak langsung akan menyadarkan kita betapa pentingnya mencintai negeri sendiri beserta budayanya. Di manapun kaki berpijak, di Indonesialah tempat kita kembali. (Sportourism)

Lady Rose dan Burung Emas Hadir di Taman Langit Gunung Banyak


Melancongyuk -Spot-spot swafoto dongeng terus dimunculkan oleh Wana Wisata Gunung Banyak. Baru-baru ini Lady Rose dan Burung Emas dari dongeng Bulgaria menambah pemandangan di Taman Langit.

Jika sebelumnya sudah menghadirkan peri-peri bersayap dengan bagian sculpture (karya tiga dimensi) imaginer yang terbuat dari bahan logam. Kali Lady Rose dan Burung Emas juga berbahan dan konsep yang sama.

Kurang lebih tingginya tiga meter sambil memegang burung. Lady rose di Taman Langit itu digambarkan mengenakan gaun panjang dan rambutnya dikepang.

Taman langit mengangkat Lady Rose ini karena memang ingin menyuguhkan sesuatu yang berbau dongeng. Seperti halnya dengan Lady Rose yang memiliki kisah di sebuah kerajaan yang sangat jauh, hiduplah seorang Putri yang sangat cantik.

Ia memiliki rambut merah panjang dan sangat mencintai bunga mawar sehingga banyak orang yang memanggilnya Putri Rose. Setiap malam setelah senja, Putri Rose keluar ke balkon dan bertepuk tangan.

Seekor burung emas datang dan terbang entah dari mana kemudian hinggap di bahunya. Seketika itu, rambut sang putri mulai bersinar, terang benderang dengan cahaya merah cemerlang.

Ketika burung tersebut mulai berkicau seperti sedang menyayikan sebuah lagu yang mempesona, Putri Rose ikut bernyanyi mengikuti alunan kicauan burung tersebut, dan semua orang yang berada di kerajaan tersebut tertidur dan bermimpi manis sampai subuh.

Setiap malam Putri Rose bersama burung emas kecilnya selalu menyanyikan lagu pengantar tidur yang penuh kasih, sehingga semua orang dapat tertidur nyenyak dan memiliki mimpi manis.

Lady Rose dan Burung Emas, dan Peri dalam dongen lainnya ada dalam beragam ukuran dan sengaja didesain bagus sesuai konsep alam agar menjual.

“Karena memang kita menjual alam sehingga kita harus memunculkan konsep yang berhubungan dengan alam juga. Ya supaya nyambung, sekaligus dilirik wisatawan. Apalagi dengan seperti ini dirasa banyak wisatawan tertarik,” ungkap Bambang Hariyanto, Kepala Wana Wisata Gunung Banyak, Senin (12/2/2018).

Ia menjelaskan wahana wisata taman langit dibuat pihak perhutani, upaya tersebut untuk menambah daya tarik wisatawan luar dan asing agar mau datang ke Kota Batu. "Agar wisatawan tidak bosan. Maka, kami buat inovasi baru. Ini beda dengan taman lain. Sebab konsep seperti ini bisa menyejukkan mata," katanya.

Menurutnya penambahan patung itu juga menjadi tambahan spot swafoto bagi wisatawan. Sebab ia ingin terus memanjakan wisatawan yang datang agar memiliki beragam foto yang berbeda-beda.

Selain patung Lady Rose dan Burung Emas, ternyata ada suguhan pemandangan vertical garden berbentuk piramida. Ada dua unit vertical garden piramida dengan beragam bunga berwarna-warnai.
Dengan demikian taman ini memiliki beragam bunga yang disuguhkan yang memanjakan mata wisatawan. “Jadi Patung Lady Rose dan Burung Emas, vertical garden ini masih baru,” imbuh bapak yang dikaruniai dua anak ini.

Selain itu di sana juga terdapat angsa raksasa seperti di negeri dongeng. Di lokasi taman langit dilengkapi berbagai fasilitas menunjang bagi wisatawan. Seperti pedestrian, shelter dan spot swafoto. Lalu ada toilet serta cottage. (jatimtimes)

Eloknya Suasana Negeri Sakura di Kota Batu

Kota Batu tidak ada habisnya menyuguhkan sajian yang unik dan berbeda. Kali ini hunian yang mengusung tema Negeri Sakura atau Jepang menjadi perbincangan hangat di kalangan wisatawan luar daerah, apalagi yang mencintai budaya Jepang.

Ya, namanya adalah The Onsen Hot Spring Resort yang terletak di di Jalan Raya Arumdalu, Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu. Resort ini menyajikan sesuatu yang cukup unik dan berbeda karena mengambil tema negara Jepang.
 

Yang menjadi sorotan itu salah satunya adalah spot swafoto yang disuguhkan khas dengan Jepang. Yakni torii dan jembatan Shinkyo. Torii adalah gerbang tradisional Jepang yang sering lebih umumnya dijumpai di jalan masuk ke Kuil Shinto, kuil Buddha di Jepang.

Bentuk torii ini tidak jauh beda seperti di Jepang, berupa dua batang palang sejajar yang disangga dua batang vertikal dengan ketinggian kurang lebih delapan meter. Bangunan ini umumnya dicat dengan warna merah menyala. Torii ini dikelilingi dengan air kolam.

Torii atau gerbang tradisional Jepang dan jembatan Shinkyo menjadi spot swafoto dan instargamable sambil mengenakan busana Yukata menjadi salah satu unggulan The Onsen Hot Spring Resort di Jalan Raya Arumdalu, Dusun Songgoriti, Kelurahan, Songgokerto.
 

Kemudian juga terdapat jembatan Shinkyo dengan warna kekhasannya berwarna merah yang semakin membuat suasana terasa berasa di Jepang. Semakin elok dengan pemandangan Gunung Banyak yang mengelilingi resort.

Tidak ketinggalan, di sana juga menyediakan busana tradisional Jepang, Yukata. Hanya saja, untuk memakai busana ini, wisatawan harus membayar Rp 150 ribu per orang selama dua jam.

Tak hanya itu saja. Di sana juga terdapat bungalo (rumah) dengan khas Jepang. Bungalo itu diberi nama masing-masing distrik atau provinsi di Jepang, seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Nikko, Nara, dan Nagoya.


Nah, di sana juga menjadi spot swafoto yang bagus, lebih terasa seperti berada di Jepang. Apalagi sambil mengenakan Yukata lengkap dengan aksesorinya seperti sandal, payung, riasan wajah dan rambut.

Bahkan banyak pengunjung luar daerah berdatangan hanya karena ingin merasakan dan swafoto di sana. Misalnya pengunjung asal Pasuruan Fawaida Silvian. Dia mengatakan ke Kota Batu karena Ingin merasakan budaya Jepang.

"Saya ke kota Batu hanya karena tarik dengan resort baru ini. Kebetulan saya suka dengan budaya Jepang dan belum bisa ke sana. Gak perlu jauh-jauh kita bisa merasakan di sini," ungkap Fawaida.

Hanya saja, untuk masuk di sini tidak gratis. Khusus yang tidak menginap, ada biaya masuk Rp 50 ribu.

Sementara itu, General Manager (GM) The Onsen Hot Spring Resort Gulam Reza Ashari menjelaskan, untuk saat ini resort baru trail opening. Namun antusias dari pengunjungnya sudah luar biasa. Bahkan banyak juga orang Jepang yang berada di Indonesia mengunjungi resort tersebut.
 

Alasannya karena selain merasakan suasana Jepang, juga ingin merasakan private Onsen (berendam air panas) murni air belerang yang menjadi salah satu unggulan resort tersebut di masing-masing bungalo. "Orang Jepang ke sini juga tertarik dengan air panas belerang ini khusus pukul 19.00-21.00 karena pada pukul itu suhu air sangat bagus," kata Gulam.

Kemudian di dalam bungalo itu disediakan dua hingga tiga kamar yang dilengkapi dengan futton (kasur khas Jepang), takonoma lemari untuk display, dinding tabel, hingga busana tradisional Kimono. Bangunan bungalo ini terbuat serba kayu.

Menurut Gulam, pemilihan tematik negara Jepang ini belum ada di Indonesia. Lalu juga karena Jepang terkenal dengan kebersihan dengan standar yang tinggi. "Prioritasnya adalah tidak perlu ke Jepang. Ya ingin menghadirkan penginapan yang unik," tambahnya.

Malang Punya Jembatan Kaca Pertama di Indonesia


Wisatawan yang berkunjung ke Kampung Warna-Warni dan Kampung 3D Kota Malang kini lebih mudah. Sebab Pemkot Malang bekerjasama dengan Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) dan perusahaan cat di Malang telah membangun jembatan kaca.

Jembatan yang menghubungkan kedua kampung wisata tersebut diklaim sebagai jembatan kaca yang pertama di Indonesia.

"Keberadaan jembatan ini adalah inspirasi bagi kita, dimana dua kampung di Kelurahan Kesatriyan dan Jodipan ini awalnya kumuh kini menjadi destinasi wisata. Melewati jembatan ini juga menguji adrenalin kita," ujar Walikota Malang M. Anton, usai persemian jembatan kaca Ngalam Indonesia, Senin (9/10/2017).

Selain mendongkrak potensi pariwisata,  keberadaan jembatan ini juga diharapkan mampu berkontribusi pada  peningkatan perekonomian warga setempat. "Ini adalah bentuk dari konsep memajukan ekonomi rakyat, karena itu saya berharap jembatan ini bisa menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan penghasilan masyarakat di dua kampung ini," tuturnya.

Jembatan kaca tersebut memiliki ketinggian 9,5 meter diatas tanah dengan panjang 20 meter dan lebar 1,25 meter. Kapasitas jembatan kaca itu sendiri mampu menampung maksimal 50 orang. Dari segi konstruksi, jembatan dirancang oleh akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan materi bahan yang sudah teruji kekuatannya.

"Atas pertimbangan itulah, Kementerian PUPR memberikan izin kepada Pemkot Malang untuk melakukan pembangunan jembatan ini," imbuh pria yang kerap disapa Abah Anton ini.

Namun pihaknya berharap, warga sekitar  bisa menjaga jembatan kaca tersebut dengan cara merawat dan mengikuti berbagai petunjuk yang sudah diberikan oleh para perancang bangunan.

"Seperti misalnya jembatan ini maksimal hanya 50 orang, jangan sampai lebih dari itu yang melintasi sehingga dengan cara tersebut bisa menjaga dan merawat jembatan kaca," tandasnya.